9 de Julio Avenue merupakan sebuah nama jalan yang terletak di pusat kota Buenos Aires, Argentina. Yang membuatnya istimewa, jalan raya ini memiliki luas yang luar biasa..
Kisah yang menyentuh hati terjadi di China. Orang tua bocah dua tahun asal Mongolia membuat keputusan penting saat sadar anaknya tak bisa tertolong lagi karena sakit.
Angin puting beliung terjadi juga di Mars. Angin itu berputar di udara sekaligus membawa debu-debu tanah Mars, sehingga disebut dust devil.
Baru-baru ini dust devil terlihat tengah melintas di permukaan planet merah itu, tepatnya di utara, yang diabadikan oleh Mars Reconnaissance Orbiter. Dust devil pertama kali terlihat di Mars oleh robot perekam jejak NASA pada 1997.
Tidak seperti tornado, dust devil biasanya terbentuk di hari yang cerah ketika permukaan Mars menerima panas yang berlimpah dari Matahari. Bila kondisinya cocok, udara panas pada permukaan Mars mulai berputar ke atas menuju lapisan udara yang lebih dingin.
Angin puting beliung yang tampak pada gambar mirip asap putih memanjang, seperti ular putih. Jejak pusaran angin yang terjadi sebelumnya juga terlihat pada foto angin puting beliung terbaru itu. Bahkan bayangan dust devil sangat jelas terlihat.
Seperti yang terjadi di Bumi, angin di Mars didukung oleh kekuatan panas Matahari. Meski saat ini terletak di dekat aphelion (posisi terjauh dari Matahari), planet merah itu mendapat tenaga surya yang cukup untuk mendorong dust devil melintasi permukaan Mars.
Sejak tiba di Mars pada 2006, Orbiter Mars Reconnaissance telah memeriksa dengan enam alat uji. Wahanaantariksa itu kemudian mengembangkan penelitian ke lingkungan planet dan menyelidiki proses terjadinya angin sejenis, tabrakan meteor, dan musim dingin yang memengaruhi permukaan Mars saat ini.
Sejak diluncurkan, Mars Reconnaissance Orbitter sudah cukup banyak mengirimkan data ke Bumi ketimbang misi penjelajahan planet lainnya. Misi NASA yang menghabiskan biaya US$720 (Rp650 miliar) itu merupakan wahana termuda yang melakukan penjelajahan di Mars.
Kecelakaan maut yang merenggut nyawa Olivia Dewi, 17, model iklan, terjadi di Jalan Jenderal Sudirman, Ja-karta Pusat, di depan Wisma Nugra Santana arah Bundaran HI, Sabtu (10/3/12) dini hari.
Selain Olivia, Joey Sebastian, 17, yang turut menum pang mobil itu, mengalami luka bakar. Kini ia tengah mendapat perawatan medis di RS Gading Pluit.
Peristiwa nahas itu terjadi, saat runner-up Gadis Sampul 2010 versi majalah Gadis itu mengendarai Nissan Juke bernopol B 60 GOH. Olivia diduga lepas kendali sehingga menabrak papan reklame dan tiang listrik.
Setelah itu mobil terbakar dan pengemudi serta penumpangnya ikut terbakar. Olivia tak bisa menyelamatkan diri sehingga dia tewas di mobilnya, sedangkan Joey masih sempat keluar mobil dan dibantu warga sekitar memadamkan api di tubuhnya.
Olivia yang siswi sekolah Morning Star Academy (MSA) Jakarta ini langsung dibawa ke RSCM guna menjalani autopsi. Setelah itu, jasadnya disemayamkan di Rumah Duka, RS Dharmais, Jakarta.
Rencananya, jenazah Olivia segera dimakamkan di permakaman San Diego Hills pada Minggu (11/3/12).
“Disemayamkan di sini sengaja, biar teman dan saudara-saudara bisa melayat. Kayaknya dimakamkan besok di San Diego Hills,” kata seorang pelayat yang tidak mau menyebutkan namanya di RS Dharmais, Sabtu (10/3/12).
Kecelakaan yang menimpa Olivia itu terjadi saat mobil yang dikendarai melaju dengan kecepatan 80-90 km/jam menuju arah Bundaran HI. Mobil itu lantas menabrak tiang reklame dan terbakar di depan Wisma Nugra Santana. Joey mengalami luka bakar dan tengah mendapat perawatan medis di RS Gading Pluit.
Berdasarkan keterangan keluarga yang dihimpun polisi, mobil yang dikendarai Olivia merupakan milik keluarga. Selain itu disebutkan pula bahwa Olivia telah memiliki surat izin mengemudi (SIM).
Namun polisi belum membuktikan hal itu karena masih meneliti bangkai mobil. Menurutnya kondisi mobil yang hangus terbakar menyulitkan polisi memeriksa lebih lanjut. Ia juga belum dapat memastikan penyebab utama kecelakaan yang membuat mobil terbakar.
Bila ada ungkapan ‘cinta ditolak, dukun bertindak’, di Kampar, Riau muncul kejadian ‘nilai jeblok, dosen ditonjok’.
Dosen yang kena tonjok itu, Yusrizal, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Persada Bunda Pekanbaru. Si penonjok bukan orang sembarangan di daerah itu. Dia Bupati Kampar Jefri Noer yang dulunya anggota DPRD Riau dari Partai Demokrat (PD).
Peristiwa itu bermula saat Yusrizal didatangi Jefri yang protes karena tidak lulus mata kuliah Hukum Adat. Saat sedang debat, tiba-tiba Jefri langsung memukul rahang si dosen dengan buku.
Yusrizal kaget bukan kepayang. Tak pernah dia bayangkan ada mahasiswa berani memukulnya.
“Saya tak menyangka, apalagi mahasiswa ini baru terpilih sebagai Bupati Kampar,” katanya.
Tak ingin insiden berlanjut, Yusrizal memilih meninggalkan ruangannya. Namun Jefri malah mengancam akan membunuh Yusrizal. Yusrizal mengaku, nilai mata kuliah Hukum Adat Jefri memang tidak keluar. Si dosen punya alasan kuat mengapa Jefri tidak lulus.
“Mahasiswa ini jarang masuk, dan selalu saja hasil ujiannya nyontek dari orang lain,” kata Yusrizal.
Selain itu, Jefri juga sering mengabaikan tugas yang diberikan. Disuruh mengerjakan tugas Hukum Adat, eh Jefri malah mengumpulkan Hukum Ekonomi.
Jefri tentu saja menampik tudingan itu.“Itu tidak benar. Jangankan memukul, menjentik pun tidak. Saya akan laporkan balik karena ini pencemaran nama baik,” ancamnya. Kasus kini ditangani Polda Riau. “Saya sudah laporkan kasus ini,” kata Yusrizal di Hotel Pangeran, Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, Senin 5 Maret 2012.
Irene Sophia Tupessy alias Reni yang namanya disebut sebagai Reni ‘Kill Bill’ diduga sebagai salah satu otak serangan di rumah duka RSPAD. Melalui pengacaranya, Charles Carlo Lesiasel, S.H, Reni membantahnya. “Dia bukan aktornya,” tegas Charles kepada majalah detik pada Rabu, 7 Maret 2012.
Namun pada Jumat, 9 Maret 2012, malam, Charles menyatakan mundur sebagai pengacara Reni. Hingga kini, Reni belum menunjuk siapa pengganti Charles.
Matikan HP! Bunyi, telinga hilang.” Tulisan seram itu tertempel di tembok sebuah kafe narkoba di Kampung Ambon. Inilah kawasan yang menjadi surga narkoba di Jakarta. Di kawasan ini pula, para tersangka penyerangan Rumah Duka RSPAD, Edo Tupessy dan Irene Sophia Tupessy alias Reni ‘Kill Bill’, tinggal.
Suasana mencekam langsung terasa, saat memasuki Kampung Ambon. Wajah-wajah terlihat tidak ramah dengan mata penuh menyelidik seperti terus mengawasi ke mana kaki melangkah.
Kampung Ambon awalnya bernama Komplek Permata. Kawasan ini terdiri dari delapan Rukun Tetangga di Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai Kampung Ambon, setelah warga Ambon yang semula tinggal di Kwini, Senen dipindahkan ke sana.
10 tahun belakangan, kawasan yang kini ditinggali sekitar 2.000 keluarga ini, dikenal sebagai ‘surga’ peredaran narkoba. Di tempat itu, narkoba dijual besar-besaran dan terang-terangan. Para pengguna narkoba tinggal datang, memilih barang, dan menggunakannya.
Meski sudah berulang kali digerebek, bisnis narkoba di Kampung Ambon tetap tumbuh subur. ‘Bisnis’ di kampung Ambon justru berkembang menjadi bagian jaringan internasional. Sebagian besar peredaran narkoba di Jakarta berasal dari Kampung Ambon yang konon mendapat pasokan dari Malaysia. Omzet diperkirakan mencapai triliunan rupiah per hari.
“Untuk memberantas sangat susah, harus sudah sejak dulu,” ujar Asmaran yang pernah menjadi kepala lingkungan Kedaung.
Seorang warga yang minta namanya dirahasiakan menuturkan Kampung Ambon sudah menjadi sindikat yang melibatkan aparat kepolisian, dan tentara. Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Pol. Benny J. Mamoto tidak menampik adanya oknum yang terlibat.
“Kita tidak menutup mata soal itu,” kata Benny. Kampung Ambon, sebenarnya sudah masuk dalam pantauan BNN.
Tukang ojek yang mangkal di ujung jalan misalnya, tidak akan menyambut ramah orang asing yang datang. Mereka cermat mengamati siapapun yang masuk. Maklum para tukang ojek ini tidak hanya mencari uang dari mengantar orang dengan motornya. Kerja mereka sesungguhnya adalah menjadi pengantar para pelanggan ke kafe narkoba, sekaligus informan jika ada penyusup. Untuk pekerjaan ini, upah tukang ojek itu tidak kecil, mereka dibayar hingga Rp 200 ribu per hari.
Memasuki kawasan ini, berulang kali crew majalah detik diingatkan, bakal tidak mudah menggali informasi mengenai Reni dan keluarganya.
“Siapa yang mau menjamin keselamatan saya atau keluarga saya? Saya tidak mau jawab soal itu, jangan tanya soal itu lagi. Saya tidak mau mati,” ujar seorang warga yang menolak disebut namanya dengan penuh ketakutan.
Keluarga Tupessy memang merupakan salah satu ‘penguasa’ di kawasan ini. Sementara anggota keluarga besar lainnya menyebar di sekitar kawasan tersebut.
Sebenarnya masih banyak keluarga besar lainnya di Kampung Ambon yang juga menjadi bandar narkoba ataupun bandar judi selain keluarga Tupessy. Jumlahnya mencapai belasan. Namun keluarga Tupessy sangat disegani, karena anggotanya paling banyak.
Lika Liku Perburuan Reni 'Kill Bill'
Setelah buron 10 hari, Reni akhirnya ditangkap di rumah Hercules di Indramayu, Jabar, Minggu 4 Maret 2012. Pengacara Reni, Charles Carlo Lesiasel, membantah Reni otak serangan di RSPAD.
“Kita pakai jurus musang merunduk di rerumputan, jadi anggota sembunyi di bengkel itu. Saat ada pria dengan bercak darah di celananya langsung kita tangkap,” kata Kasat Reskrim Polres Jakpus AKBP Hengky.
23 Februari 2012 Pukul 01.30 WIB, Reni bersama 50-an orang menyerang kelompok Jemmy Tato yang sedang melayat di Rumah Duka RSPAD. 2 orang tewas, 4 luka.
23 Februari 2012 Beberapa jam kemudian Polisi menangkap Edo Tupessy alias Edo Kiting. Lalu, polisi menangkap 4 orang lagi, 2 di antaranya, Tomy alias Ongen dan Gheteres Tomatala, jadi tersangka. Malam harinya, polisi menangkap 1 orang lagi.
25 Februari 2012 Polisi menetapkan 7 tersangka penyerangan RSPAD.
4 Maret 2012 Polisi menggerebek rumah Hercules di Indramayu, sekitar pukul 07.00 WIB. Reni dan Heryanto, suaminya, ditangkap saat masih tidur di rumah itu.
3 Maret 2012 Polisi menggeledah sebuah rumah di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Polisi hanya menemukan 2 anak Reni, Pat dan Jul. Kedua anak itu dan Boby, adik angkat Hercules, dibawa ke kantor polisi.
2 Maret 2012 Polisi menangkap John Robert alias Oncu dan istrinya di Kondomium Hotel Golden Sky Pluit Jakarta Barat.
Penampilan Reni ‘Kill Bill’ sehari setelah ditangkap jauh dari sosoK jagoan. ia menggigil Ketakutan. Bahkan terus menerus menangis.
Potongan adegan dari film Kill Bill, dari adegan film inilah Reni mendapat julukan Kill Bill
*Dirangkum dari Majalah Detik for iPad edisi 18 Maret 2012
Ibnu Azis Rifai (20) Warga Dukuh Pilangsari, Desa Potronayan, Kecamatan Nogosari itu dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana, melanggar pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dalam sidang di PN Boyolali, Kamis 1/3/12.
Dalam amar putusannya, Majelis Hakim yang diketuai Bambang Eka Putra mengatakan, hal-hal yang meringankan, dia bersikap sopan, belum pernah dihukum, masih berusia muda, berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Sedangkan hal-hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa memberatkan diri sendiri dan orang lain. Terhadap vonis tersebut, penasihat hukum terdakwa, Budhi Kuswanto SH maupun Jaksa Penuntut Umum, Sri Harna SH menyatakan pikir-pikir. Hakim lalu memberi kesempatan selama seminggu kepada jaksa maupun kuasa hukum terdakwa.
Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa yang menuntut 2 tahun penjara. Terdakwa terbukti merakit dan meledakkan bom terbuat dari bahan tabung gas ukuran 3 kg. Peledakan dilakukan di tengah sawah pada hari raya Idul Fitri, 31 Agustus† 2011 lalu, usai shalat Id.
Untuk pemicunya, yakni menggunakan sinyal telepon seluler yang dia hubungi. Ledakan menimbulkan lubang cukup dalam. Polisi dan tim forensik Polda Jateng sempat melakukan pemeriksaan di lokasi ledakan guna mengambil sampel bekas ledakan.
Terdakwa Aziz berkonsultasi dengan penasihat hukumnya seusai pembacaan vonis.
Saat dimintai konfirmasi usai sidang, Aziz enggan memberikan jawaban. Justru dia memberikan secarik kertas yang berisi unek-uneknya. Dia berharap bila ada kasus seperti ini tak berakhir pemidanaan, tetapi ditempatkan di lembaga yang sesuai potensinya untuk dikembangkan lebih lanjut.
Karena jika dipidanakan, maka akan muncul perakit-perakit bom baru. Dia juga meminta perlindungan kepada pemerintah, karena merasa tidak akan bisa menghadapi orang yang akan berbuat jahat. Sayangnya, dia tidak menjelaskan lebih lanjut orang dimaksud.